sinopsis cerpen matahari tak terbit pagi ini
TahunTerbit : 2014. Sinopsis Novel Rindu. Novel Rindu menceritakan tentang perjalanan panjang sebuah kerinduan. Sebuah perjalanan rasa rindu yang banyak menimbun beban di dalam hati. Mulai dari bagaimana tokoh utama dalam novel ini menempuh perjalanan dengan dosa yang tak terperi di masa lalu.
Bayangkanlah bila matahari tak terbit lagi. Matahari selalu memberi, ia tak akan berhenti membagi hangatnya untukmu bahkan di kala kau tak sempat meminta. Source: kitabelajar.github.io. Saat itu aji masih kelas 5 sd. Matahari tak akan pernah ingkar janji, ia akan selalu terbit di pagi hari menggantikan gelapmu dalam malam.
CewekVirgo ini punya hobi traveling, naik gunung, ngoleksi T-shirt bergambar jeep, dan ngoleksi perangko. Jingga dalam Elegi adalah novel keenam Esti setelah Fairish (2004) yang menjadi best-seller dan terus cetak ulang hingga kini, cewek (2005) yang juga laris manis, still (2006), Dia, Tanpa Aku (2008), dan Jingga dan Senja ( 2010 ).
Kedengaranazan berkumandang memasuki celah-celah tingkap. Azan subuh telah mengejutkan aku daripada terus terlena. Pendingin hawa yang terpasang sejak semalam aku tutup. Aku terus memasuki bilik air untuk bersuci. Tepat pukul lima pagi, ketukan pintu kedengaran. Mak Cik Ros telah memanggilku untuk solat subuh berjemaah bersama keluarganya.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Selamat datang lagi di channel YouTube saya, Semoga video ini bermanfaat dan berguna buat banyak orang, selamat
Site De Rencontre Européen 100 Gratuit. Uploaded byRizki Amaliah 100% found this document useful 1 vote854 views3 pagesCopyright© Attribution Non-Commercial BY-NCAvailable FormatsDOC, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?Is this content inappropriate?Report this Document100% found this document useful 1 vote854 views3 pagesMatahari Tak Terbit Pagi Ini Fakhrunnas MA JabbarUploaded byRizki Amaliah Full descriptionJump to Page You are on page 1of 3Search inside document Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
Matahari Tak Terbit Pagi IniSebarkan iniPosting terkait Karya Fakhrunnas MA Jabbar Pernahkah kau merasakan sesuatu yang biasa hadir mengisi hari- harimu, tiba-tiba lenyap begitu saja. Hari-harimu pasti berubah jadi pucat pasi tanpa gairah. Saat kau hendak mengembalikan sesuatu yang hilang itu dengan sekuat daya, namun tak kunjung tergapai. Kau pasti jadi kecewa seraya menengadahkan tangan penuh harap lewat kalimat doa yang tak putus-putusnya. Bukankah kau jadi kehilangan kehangatan karena tak ada helai-helai sinar ultraviolet yang membuat senyumnya begitu ranum selama ini. Matahari bagimu tentu tak sekadar benda langit yang memburaikan kemilau cahaya, tetapi sudah menjadi sebuah peristiwa yang menyatu dengan ragamu. Bayangkanlah bila matahari tak terbit lagi. Tidak hanya kau tapi jutaan orang kebingungan dan menebar tanya sambil merangkak hati-hati mencari liang langit, tempat matahari menyembul secara perkasa dan penuh cahaya. Kaulah matahari itu, bidadariku. Berhari-hari kau merekat kasih hingga tak terkoyak oleh waktu, tiba-tiba kita harus berpencar di bawah langit menuju sudut-sudut yang kosong. Kekosongan itu kita bawa melewati jejalan kesedihan. Kita harus terpisah jauh menjalani kodrat diri yang termaktub di singgasana luhl mahfudz. Semula kita begitu dekat. Lantas terpisah jauh oleh lempengan waktu. Kita mengisi halaman-halaman kosong kehidupan kita dengan denyut nadi. Sesudahnya, kita bertemu bagai angin mengecup pucuk-pucuk daun dan berlalu begitu mudah. Dan kita pun bertemu lagi dengan perasaan yang asing hingga kita begitu sulit memahami siapa diri kita sebenarnya. Di ruang kosong yang semula dipenuhi pernik cahaya matahari, kita bertatap muka penuh gairah. Di penjuru ruang kosong itu bergantungan bola-bola rindu penuh warna dan aroma. Bola-bola itu bergesekan satu dengan lain mengalirkan irama-irama lembut Beethoven atau Papavarotti. Irama itu menyayat-nyayat hati kita hingga mengukir potongan sejarah baru. Bagaikan sepasang angsa putih yang menari-nari di bawah gemerlapan cahaya langit, sejarah itu terus ditulisi berkepanjangan. Lewat ratusan kitab, laksa aksara. Namun, setiap perjalanan pasti ada ujungnya. Setiap pelayaran ada pelabuhan singgahnya. Setiap cuaca benderang niscaya ditingkahi temaram bahkan kegelapan. Andai sejarah boleh terus diperpanjang membawa mitos dan legendanya, maka dirimu boleh jadi termaktub pada pohon ranji sejarah itu. Boleh jadi, kau akan tampil sebagai permaisuri ataupun Tuanku Putri yang molek. Mungkin, berada di bawah bayang-bayang Engku Putri Hamidah, Puan Bulang Cahaya atau pun siapa saja yang pernah mengusung regalia kerajaan yang membesarkan marwah perempuan. Aku tiba-tiba jadi kehilangan sesuatu yang begitu akrab di antara kutub- kutub kosong itu. Kusebut saja, kutub rindu. Aku tak mungkin menuangkan tumpukan warna di kanvas yang penuh garis dan kata ibarat sebab lukisan agung ini tak kunjung selesai. Masih diperlukan banyak sentuhan kuas dan cairan cat warna-warni hingga lukisan ini mendekati sempurna. Kita telah menggoreskan kain kanvas kosong itu sejak mula hingga waktu jeda yang tanpa batas. Masih ingatkah kau bagaimana langit-langit kamar itu penuh getar dan kabar. Tiap pintu dan tingkap dipenuhi ikrar kita. Dan bola lampu temaram memburaikan janji-janji. Sebuah percintaan agung sedang dipentaskan di bawah arahan sutradara semesta. Kau membilang percik air yang berjatuhan di danau kecil di sudut pekarangan jiwa dalam kecup dan harum mawar. Bahkan, tubuh kita terguyuri embun yang terbang menembus kisi-kisi tingkap hingga tubuh kita jadi dingin. Malam-malam penuh mimpi dan keceriaan bagaikan sepasang angsa yang mengibas-ngibaskan bulu-bulu beningnya. Kau redupkan cahaya lampu di tiap penjuru hingga sejarah dapat dituliskan secara khidmat dan penuh makna. Kau menatap langit- langit kamar sambil membisikkan untaian puisi yang kau tulis dengan desah napasmu. Kita merecup semua getar irama percintaan itu tiada batas. Malam itu siapa pun tak butuh matahari. Sebab, ada bulan yang bersaksi. Kita hanya butuh setitik cahaya guna penentu arah belaka. Selebihnya sunyi menyebat kita dan tiupan angin yang melompat lewat kisi-kisi jendela yang agak terdedah. Dengan apakah kulukiskan pertemuan kita, Kekasih? Chairil sempat bertanya seketika. Ah, tak cukup kata memberi makna, katamu. Dan isyarat sepasang angsa yang saling menggosokkan paruh-paruhnya. Bagaikan peladang kita pun sudah pula bertanam dan menebar benih. Kelak, katamu, akan ada buah yang bakal dipetik sebagai kebulatan hati yang begitu mudah terjadi tanpa paksa dan janji. Dan kita pun terus saja bertanam agar daun-daun yang bertumbuh kelak dapat menangkap fotosintesa matahari. Di tiap helai daun itu bermunculan nama kita sebagai sebuah keabadian. Andai matahari tak terbit lagi saat pagi merona, kita masih menyimpan sedikit cahaya di helai-helai daun yang berguncang dihembus angin sepanjang hari. Sungguh, matahari tak terbit pagi ini. Bagai aku kehilangan dirimu yang berhari-hari menangkap cahaya hingga memekarkan kelopak bunga di jiwa. Percintaan ini penuh wangi dan warna. Penuh hijau daun dan kupu- kupu yang menyemai spora di mahkota bunga. Begitulah saat kau berada jauh kembali ke garis hidupmu, aku begitu ternganga sebab cahaya tak ada. Memang, tak pernah matahari tak terbit memeluk bumi. Tapi, bagi kita, kala berada jauh, keadaan begitu gelap dan sunyi tiba-tiba. Kita merasa begitu kehilangan. Kita merasa ada yang terenggut tanpa sengaja. Serasa ada yang tercerabut dari akar yang semula menghunjam jauh di tanah. Kita bagaikan orang tak punya pilihan saat berada di persimpangan tak bertanda. Syukurlah, kita tak pernah kehilangan arah tempat bertuju di perjalanan berikutnya. Hidup ini penuh gurindam dan bidal Melayu yang memagari ruang dan langkah kita menuju titik terjauh yang harus dilompati. Kata-kata yang berdesakan di bait puisi dan lirik lagu menebar wangi hari-hari. takkan kutemui wanita seperti dirimu takkan kudapatkan rasa cinta ini kubayangkan bila engkau datang kupeluk bahagia kan daku kuserahkan seluruh hidupku menjadi penjaga hatiku Suara Ari Lasso lewat “Penjaga Hati” itu mengalir pelan-pelan dari tembok-tembok kegelapan yang mengepungku. Benar kata emak dulu, kita akan tahu akan makna sesuatu ketika ia telah berlalu. Apalagi berada jauh yang tak tersentuh. Matahari tak terbit pagi ini. Begitulah kita merasakan saat diri kita berada di kutub yang berjauhan. Diperlukan garis waktu untuk mempertemukan kedua tebing kutub itu. Atau, kita harus kuat merenangi laut salju yang kental atau menyelam di bawah bongkahan es yang dingin menyengat tubuh. Begitu diperlukan segala daya untuk menemukan sesuatu yang lenyap begitu cepat saat diri memerlukan setitik cahaya. Apa perasaanmu kini? Kau telan kesendirian itu di kejauhan sambil berharap matahari akan bercahaya segera menerangi kisi-kisi hati yang tersaput luka rindu kita. Andai kita bisa menolak gumpal awan dan menyeruakkan matahari kembali, begitulah takdir yang hendak kita bentangkan di kitab sejarah sepanjang masa. Tapi, kita akan cepat lelah. Menyeruakkan awan untuk menyembulkan garang matahari bukanlah hal yang mudah. Kita butuh sejuta tangan dan cakar untuk menaklukkan segenap awan dan matahari itu. Kau ingat kan, kisah Qays dan Laila atau Romeo dan Juliet yang memburaikan banyak kenangan bagi jutaan orang. Kau pun ada dalam bagian kisah yang tak pernah lekang di panas dan lapuk di hujan itu. Selalu ada manik-manik kasih mengalir di samudra kehidupan yang mahaluas ini. Meski kadangkala suaramu tersekat melempar tanya kala anugerah kasih ini terbit di ujung usia. Tak bolehkah kita mereguk kebahagiaan di sisa waktu yang masih tersedia meski semua jalan yang terbuka di depan bagai tak berujung jua. ”Aku takut bila aku berubah. Tapi tak akan pernah, pangeranku,” ucapmu pelan. Garis panjang waktu itu mendedahkan kemungkinan-kemungkinan yang sulit diraba. Banyak ancaman yang siap mengepung kita hingga merobek tabir setia. Ya, kesetiaan tak kasat-mata. Hanya ada di bilik hati. Ingin aku menjenguk bilik hatimu setiap saat, tapi tak bisa. Pintu hati itu tak setiap waktu bisa terbuka. Andai kau bangun esok pagi, nankan selalu matahari akan terbit seperti janji yang diucapkannya pada semesta. Di helai cahaya matahari itu selalu ada kehangatan yang meresap di keping-keping jiwamu Baca Juga; Cerita Pendek Robohnya Surau Kami Negosiasi Warga dengan Investor Faktor Penentu Keberhasilan Negosiasi Ciri Ciri Teks Negosiasi Hikayat Si Miskin
74% found this document useful 65 votes138K views9 pagesOriginal TitleAnalisis cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini XI MIPA 1.pptxCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsPPTX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?74% found this document useful 65 votes138K views9 pagesAnalisis Cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini XI MIPA 1Original TitleAnalisis cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini XI MIPA 1.pptxJump to Page You are on page 1of 9 You're Reading a Free Preview Pages 5 to 8 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
Resensi Cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini / Resensi Dan Sinopsis Novel Victory / Bagi yang tidak paham bahasa indonesia, bisa gunakan google translate.. Judul resensi harus sesuai atau selaras dengan keseluruhan isi resensi. Resensi kumpulan cerpen judul Viii+116 halaman hardcover terbit Pada kesempatan kali ini akan membuat artikel mengenai majas metafora Si kakek mencari seorang dokter yang tadi pagi. Hal ini terjadi karena gerak semu matahari atau peredaran bumi mengelilingi matahari. Sungguh, matahari tak terbit pagi ini. Amanat cerpen matahari tak terbit pagi ini berisi tentang betapa berartinya seorang yang dikasihi dalam sebuah kehidupan. Unsur intrnsik dan unsur ekstrinsik dari cerpen yang berjudul matahari tak terbit pagi ini unsur intrinsik sebuah cerpen terdiri atas tema alur sudut pandang penokohan dan amanat. Berikut informasi sepenuhnya tentang unsur intrinsik cerpen matahari tak terbit pagi ini brainly. Arti Cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini Tulisan from Novel ini merupakan lanjutan dari 2 novel yang terbit lebih dahulu yaitu novel bumi dan novel bulan. Pengertian dan struktur cerpen beserta contohnya. Pengertian cerpen cerpen ialah sebuah singkatan dari cerita pendek. Struktur cerpen matahari tak terbit pagi ini. Bagi yang tidak paham bahasa indonesia, bisa gunakan google translate. Seperti yang kita ketahui sejak dahulu, matahari adalah sumber energi utama bagi bumi. Matahari tak terbit pagi ini unsur intrinsik. Latihan matahari tak terbit pagi ini karya Sungguh, matahari tak terbit pagi ini. Namun, tak sedikit yang merasa terganggu. Saat kau hendak mengembalikan sesuatu yang hilang itu dengan sekuat daya, namun tak kunjung tergapai. Berikut analisasi unsur intrinsik dan ekstrinsik unsur. Atau, kita harus kuat merenangi laut salju yang kental atau menyelam di bawah bongkahan es yang dingin menyengat tubuh. Ketiadaanya dapat menyebabkan hidup menjadi sunyi, tidak indah dan serasa tidak bermakna lagi. Konten bisa apa saja news, essay, feature, etc asal cocok untuk indonesia, cocok untuk nusantara, cocok untuk di share di facebook atau dijadikan ide untuk video youtube. Saat kau hendak mengembalikan sesuatu yang hilang itu dengan sekuat daya, namun tak kunjung tergapai. Pengertian dan struktur cerpen beserta contohnya. Latihan matahari tak terbit pagi ini karya Amanat cerpen matahari tak terbit pagi ini berisi tentang betapa berartinya seorang yang dikasihi dalam sebuah kehidupan. Oleh mas ale diposting pada 26 juli 2021. Bagi yang tidak paham bahasa indonesia, bisa gunakan google translate. Sehingga matahari tidak terbit di timur tapi terbit mendekati arah timur laut antara timur dengan utara. Namun, tak sedikit yang merasa terganggu. Konten bisa apa saja news, essay, feature, etc asal cocok untuk indonesia, cocok untuk nusantara, cocok untuk di share di facebook atau dijadikan ide untuk video youtube. Surga untuk malaikat tak bersayap. Tubuh hitam belang bersayap kelam. Viii+116 halaman hardcover terbit Analisis Cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini Xi Mipa 1 from Hal ini terjadi karena gerak semu matahari atau peredaran bumi mengelilingi matahari. Seperti yang kita ketahui sejak dahulu, matahari adalah sumber energi utama bagi bumi. Matahari terbit viele angebote mit reiseschutz & kostenlos umbuchbar! Apapun kontennya bisa jadi paling dicari, viral, terbaru, rate tertinggi, atau sekedar chace data. Konten bisa apa saja news, essay, feature, etc asal cocok untuk indonesia, cocok untuk nusantara, cocok untuk di share di facebook atau dijadikan ide untuk video youtube. Jika matahari tak terbit lagi cerpen karangan Pada cerpen matahari tak terbit pagi ini memiliki struktur cerpen pada umumnya yaitu 1 pengenalan situasi cerita exposition, orientation, 2 pengungkapan peristiwa complication, 3 gambaran konflik rising action, 4 puncak konflik turning point, dan 5 penyelesaian ending atau coda. Bagi yang tidak paham bahasa indonesia, bisa gunakan google translate. Oleh mas ale diposting pada 26 juli 2021. Hal ini terjadi karena gerak semu matahari atau peredaran bumi mengelilingi matahari. Judul resensi harus sesuai atau selaras dengan keseluruhan isi resensi. Nanti di setiap bulan maret dan september, saat matahari di khatulistiwa, matahari baru akan terbit di timur, kata dia. Oleh pengajarku diposting pada januari 22, 2021. Kali ini saya akan memaparkan sinopsis dan resensi dari penulis yang sama yaitu tere liye yang berjudul matahari. Pada cerpen matahari tak terbit pagi ini memiliki struktur cerpen pada umumnya yaitu 1 pengenalan situasi cerita exposition, orientation, 2 pengungkapan peristiwa complication, 3 gambaran konflik rising action, 4 puncak konflik turning point, dan 5 penyelesaian ending atau coda. Namun, matahari yang kumaksud bukanlah matahari yang menyinari bumi setiap hari. Surga untuk malaikat tak bersayap. Pagi ini aku terbangun dengan perasaan bahagia. Sungguh, matahari tak terbit pagi ini. Pada kesempatan kali ini akan membuat artikel mengenai majas metafora Ada angin dingin menerpa kalbu. Saat kau hendak mengembalikan sesuatu yang hilang itu dengan sekuat daya, namun tak kunjung tergapai. Bagai aku kehilangan dirimu yang berhari hari menangkap cahaya hingga memekarkan kelopak bunga dijiwa. Andai matahari tak terbit lagi saat pagi merona kita masih menyimpan sedikit cahaya di helai helai daun yang berguncang dihembus angin sepanjang hari. Bagi yang tidak paham bahasa indonesia, bisa gunakan google translate. Saat kau hendak mengembalikan sesuatu yang hilang itu dengan sekuat daya, namun tak kunjung tergapai. Surga untuk malaikat tak bersayap. Analisis Cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini Xi Mipa 1 from Oleh mas ale diposting pada 26 juli 2021. Tidak hanya kau tapi jutaan orang kebingungan dan menebar tanya sambil merangkak hati hati mencari liang langit. Novel ini merupakan lanjutan dari 2 novel yang terbit lebih dahulu yaitu novel bumi dan novel bulan. Matahari tak terbit pagi ini unsur intrinsik. By admin kamis 09 januari 2020. Konten bisa apa saja news, essay, feature, etc asal cocok untuk indonesia, cocok untuk nusantara, cocok untuk di share di facebook atau dijadikan ide untuk video youtube. Matahari tak terbit pagi ini. Berikut informasi sepenuhnya tentang unsur intrinsik cerpen matahari tak terbit pagi ini brainly. Pada kesempatan kali ini akan membuat artikel mengenai majas metafora Resensi kumpulan cerpen judul Ahmad faisal imron tebal buku Ini digambarkan sebagai situasi saat matahari berada 6 derajat atau kurang di bawah cakrawala. Aku yang tindak sebagai tokokh utama dengan watak romantis, pengertian, dan penyabar. Dan kulihat engkau menunduk sembilu. By admin kamis 09 januari 2020. Ketiadaanya dapat menyebabkan hidup menjadi sunyi, tidak indah dan serasa tidak bermakna lagi. Saat kau hendak mengembalikan sesuatu yang hilang itu dengan sekuat daya, namun tak kunjung tergapai. Struktur cerpen matahari tak terbit pagi ini. Novel ini merupakan lanjutan dari 2 novel yang terbit lebih dahulu yaitu novel bumi dan novel bulan. Menilai cerpen saksi mata karya seno gumira ajidarma. Matahari tak terbit pagi ini unsur intrinsik sebuah cerpen terdiri atas tema, alur, sudut pandang, penokohan dan amanat. Namun, matahari yang kumaksud bukanlah matahari yang menyinari bumi setiap hari.
Pernahkah kau merasakan sesuatu yang biasa hadir mengisi hari-harimu, tiba-tiba lenyap begitu saja. Hari-harimu pasti berubah jadi pucat pasi tanpa gairah. Saat kau hendak mengembalikan sesuatu yang hilang itu dengan sekuat daya, namun tak kunjung tergapai. Kau pasti jadi kecewa seraya menengadahkan tangan penuh harap lewat kalimat doa yang tak putus-putusnya. Bukankah kau jadi kehilangan kehangatan karena tak ada helai-helai sinar ultraviolet yang membuat senyumnya begitu ranum selama ini. Matahari bagimu tentu tak sekadar benda langit yang memburaikan kemilau cahaya tetapi sudah menjadi sebuah peristiwa yang menyatu dengan ragamu. Bayangkanlah bila matahari tak terbit lagi. Tidak hanya kau tapi jutaan orang kebingungan dan menebar tanya sambil merangkak hati-hati mencari liang langit, tempat matahari menyembul secara perkasa dan penuh cahaya. Kaulah matahari itu, bidadariku. Berhari-hari kau merekat kasih hingga tak terkoyak oleh waktu, tiba-tiba kita harus berpencar di bawah langit menuju sudut-sudut yang kosong. Kekosongan itu kita bawa melewati jejalan kesedihan. Kita harus terpisah jauh menjalani kodrat diri yang termaktub di singgasana luhl mahfudz. Semula kita begitu dekat. Lantas terpisah jauh oleh lempengan waktu. Kita mengisi halaman-halaman kosong kehidupan kita dengan denyut nadi. Sesudahnya, kita bertemu bagai angin mengecup pucuk-pucuk daun dan berlalu begitu mudah. Dan kita pun bertemu lagi dengan perasaan yang asing hingga kita begitu sulit memahami siapa diri kita sebenarnya. Di ruang kosong yang semula dipenuhi pernik cahaya matahari, kita bertatap muka penuh gairah. Di penjuru ruang kosong itu bergantungan bola-bola rindu penuh warna dan aroma. Bola-bola itu bergesekan satu dengan lain mengalirkan irama-irama lembut Beethoven atau Papavarotti. Irama itu menyayat-nyayat hati kita hingga mengukir potongan sejarah baru. Bagaikan sepasang angsa putih yang menari-nari di bawah gemerlapan cahaya langit, sejarah itu terus ditulisi berkepanjangan. Lewat ratusan kitab, laksa aksara. Namun, setiap perjalanan pasti ada ujungnya. Setiap pelayaran ada pelabuhan singgahnya. Setiap cuaca benderang niscaya ditingkahi temaram bahkan kegelapan. Andai sejarah boleh terus diperpanjang membawa mitos dan legendanya, maka dirimu boleh jadi termaktub pada pohon ranji sejarah itu. Boleh jadi, kau akan tampil sebagai permaisuri atau pun Tuanku Putri yang molek. Mungkin, berada di bawah bayang-bayang Engku Putri Hamidah, Puan Bulang Cahaya atau pun siapa saja yang pernah mengusung regalia kerajaan yang membesarkan marwah perempuan. Aku tiba-tiba jadi kehilangan sesuatu yang begitu akrab di antara kutub-kutub kosong itu. Kusebut saja, kutub rindu. Aku tak mungkin menuangkan tumpukan warna di kanvas yang penuh garis dan kata ibarat sebab lukisan agung ini tak kunjung selesai. Masih diperlukan banyak sentuhan kuas dan cairan cat warna-warni hingga lukisan ini mendekati sempurna. Kita telah menggoreskan kain kanvas kosong itu sejak mula hingga waktu jeda yang tanpa batas. Masih ingatkah kau bagaimana langit-langit kamar itu penuh getar dan kabar. Tiap pintu dan tingkap dipenuhi ikrar kita. Dan bola lampu temaram memburaikan janji-janji. Sebuah percintaan agung sedang dipentaskan di bawah arahan sutradara semesta. Kau membilang percik air yang berjatuhan di danau kecil di sudut pekarangan jiwa dalam kecup dan harum mawar. Bahkan, tubuh kita terguyuri embun yang terbang menembus kisi-kisi tingkap hingga tubuh kita jadi dingin. Malam-malam penuh mimpi dan keceriaan bagaikan sepasang angsa yang mengibas-ngibaskan bulu-bulu beningnya. Kau redupkan cahaya lampu di tiap penjuru hingga sejarah dapat dituliskan secara khidmat dan penuh makna. Kau menatap langit-langit kamar sambil membisikkan untaian puisi yang kau tulis dengan desah napasmu. Kita merecup semua getar irama percintaan itu tiada batas. Malam itu siapa pun tak butuh matahari. Sebab, ada bulan yang bersaksi. Kita hanya butuh setitik cahaya guna penentu arah belaka. Selebihnya sunyi menyebat kita dan tiupan angin yang melompat lewat kisi-kisi jendela yang agak terdedah. Dengan apakah kulukiskan pertemuan kita, Kekasih? Chairil sempat bertanya seketika. Ah, tak cukup kata memberi makna, katamu. Dan isyarat sepasang angsa yang saling menggosokkan paruh-paruhnya. Bagaikan peladang kita pun sudah pula bertanam dan menebar benih. Kelak, katamu, akan ada buah yang bakal dipetik sebagai kebulatan hati yang begitu mudah terjadi tanpa paksa dan janji. Dan kita pun terus saja bertanam agar daun-daun yang bertumbuh kelak dapat menangkap fotosintesa matahari. Di tiap helai daun itu bermunculan nama kita sebagai sebuah keabadian. Andai matahari tak terbit lagi saat pagi merona, kita masih menyimpan sedikit cahaya di helai-helai daun yang berguncang dihembus angin sepanjang hari. Sungguh, matahari tak terbit pagi ini. Bagai aku kehilangan dirimu yang berhari-hari menangkap cahaya hingga memekarkan kelopak bunga di jiwa. Percintaan ini penuh wangi dan warna. Penuh hijau daun dan kupu-kupu yang menyemai spora di mahkota bunga. Begitulah saat kau berada jauh kembali ke garis hidupmu, aku begitu ternganga sebab cahaya tak ada. Memang, tak pernah matahari tak terbit memeluk bumi. Tapi, bagi kita, kala berada jauh, keadaan begitu gelap dan sunyi tiba-tiba. Kita merasa begitu kehilangan. Kita merasa ada yang terenggut tanpa sengaja. Serasa ada yang tercerabut dari akar yang semula menghunjam jauh di tanah. Kita bagaikan orang tak punya pilihan saat berada di persimpangan tak bertanda. Syukurlah, kita tak pernah kehilangan arah tempat bertuju di perjalanan berikutnya. Hidup ini penuh gurindam dan bidal Melayu yang memagari ruang dan langkah kita menuju titik terjauh yang harus dilompati. Kata-kata yang berdesakan di bait puisi dan lirik lagu menebar wangi hari-hari. takkan kutemui wanita seperti dirimu takkan kudapatkan rasa cinta ini kubayangkan bila engkau datang kupeluk bahagia kan daku kuserahkan seluruh hidupku menjadi penjaga hatiku Suara Ari Lasso lewat Penjaga Hati itu mengalir pelan-pelan dari tembok-tembok kegelapan yang mengepungku. Benar kata emak dulu, kita akan tahu akan makna sesuatu ketika ia telah berlalu. Apalagi berada jauh yang tak tersentuh. Matahari tak terbit pagi ini. Begitulah kita merasakan saat diri kita berada di kutub yang berjauhan. Diperlukan garis waktu untuk mempertemukan kedua tebing kutub itu. Atau, kita harus kuat merenangi laut salju yang kental atau menyelam di bawah bongkahan es yang dingin menyengat tubuh. Begitu diperlukan segala daya untuk menemukan sesuatu yang lenyap begitu cepat saat diri memerlukan setitik cahaya. Apa perasaanmu kini? Kau telan kesendirian itu di kejauhan sambil berharap matahari akan bercahaya segera menerangi kisi-kisi hati yang tersaput luka rindu kita. Andai kita bisa menolak gumpal awan dan menyeruakkan matahari kembali, begitulah takdir yang hendak kita bentangkan di kitab sejarah sepanjang masa. Tapi, kita akan cepat lelah. Menyeruakkan awan untuk menyembulkan garang matahari bukanlah hal yang mudah. Kita butuh sejuta tangan dan cakar untuk menaklukkan segenap awan dan matahari itu. Kau ingat kan, kisah Qays dan Laila atau Romeo dan Juliet yang memburaikan banyak kenangan bagi jutaan orang. Kau pun ada dalam bagian kisah yang tak pernah lekang di panas dan lapuk di hujan itu. Selalu ada manik-manik kasih mengalir di samudera kehidupan yang maha-luas ini. Meski kadangkala suaramu tersekat melempar tanya kala anugerah kasih ini terbit di ujung usia. Tak bolehkah kita mereguk kebahagiaan di sisa waktu yang masih tersedia meski semua jalan yang terbuka di depan bagai tak berujung jua. "Aku takut bila aku berubah. Tapi tak akan pernah, pangeranku," ucapmu pelan. Garis panjang waktu itu mendedahkan kemungkinan-kemungkinan yang sulit diraba. Banyak ancaman yang siap mengepung kita hingga merobek tabir setia. Ya, kesetiaan tak kasat-mata. Hanya ada di bilik hati. Ingin aku menjenguk bilik hatimu setiap saat, tapi tak bisa. Pintu hati itu tak setiap waktu bisa terbuka. Andai kau bangun esok pagi, nankan selalu matahari akan terbit seperti janji yang diucapkannya pada semesta. Di helai cahaya matahari itu selalu ada kehangatan yang meresap di keping-keping jiwamu. Cerpen Fakhrunnas MA Jabbar
sinopsis cerpen matahari tak terbit pagi ini